Senin, 05 Desember 2011

HADITS MAUDLU'

 

HADIST-HADIST MAUDHU’










Oleh
Evi Maskhulin, S.Pd.I

Dipresentasikan di Forum Kegiatan Mahasiswa Ushuluddin (FKMU)
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Ushuluddin
INSTITUT DIROSAT ISLAMIYAH Al-AMIEN (IDIA)
PRENDUAN SUMENEP MADURA
Tahun 2010






 

Pengertian Hadist Maudlu’
Apasih Hadist Maudlu’ itu?
Secara etimologi : maudhu berasal dari kata وضع yang mempunyai beberapa makna diantaranya:
الحط ( merendahkan )
Rendah dalam kedudukannya
الإسقاط ( menjatuhkan )
Jatuh ( tidak bisa diambil dasar hukum )
الإختلا ق ( mengada-ngadakan )
Diada-adakan oleh perawinya
الالصاق ( menyandarkan / menempelkan )
Disandarkan pada Muhammad shallallohu alaihi wa sallam sedang beliau tidak mengatakannya
Sedang dalam istilah ilmu hadits: hadits maudhu adalah hadits yang diada-adakan dan dipalsukan atas nama Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam secara sengaja atau kesalahan sebagian ulama mengkhususkan hadits maudhu. pada dusta yang disengaja saja

Hukum Memakainya Gmn Dong?
كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ مَنْ
Barangsiapa berdusta atas saya dengan sengaja maka tempatnya di neraka”
( Riwayat Bukhari- Muslim)

Sebab-Sebab Munculnya Pemalsuan Hadits
*      Polemik politik
1.      Kelompok Syi’ah
2.      Kelompok Mu’awiyah dan
3.      Kelompok Khawarij
  Ada 2 metode yang dipakai Syiah dalam memalsukan hadits:
1.      Memalsukan hadits yang mendukung pendapat mereka seperti keutamaan Ali radhiyallohu anhu,
2.      Memalsukan hadits tentang keburukan musuhnya
Contoh:
إذا رأيتم معاوية على منبري فاقتلوه
“Apabila kamu melihat Mua’wiyah di atas mimbarku maka bunuhlah ia”.
Dalam sanad hadits ini ada dua orang rawi pendusta Ubbad bin Ya’kub dan Al-Hakam bin Sohir
*      Upaya-upaya Musuh Islam
Hal ini membuat mereka untuk berupaya menghancurkan Islam dari dalam. Diantara mereka adalah Muhammad bin Sa’id al-Syami yang merupakan kelompok zindiq (munafik).
Contoh hadist:
“Aku adalah penutup para Nabi. Dan tidak ada Nabi sesudahku, kecuali apabila dikehendaki oleh Allah”.
*      Perbedaan ras fanatisme, kesukuan, daerah dan imam.
      Sebagai contoh pada fanatisme ras dan kesukuan adalah Hadits palsu berikut:
“Sesungguhnya bahasa orang-orang yang ada di Arsy adalah Bahasa Parsi”. Kemudian ras lain yang berlawanan dengan kelompok Persia membuat Hadits palsu tandingannya:
Bahasa yang paling dibenci Allah adalah Bahasa Persia dan bahasa penduduk surga adalah Bahasa Arab
Contoh Hadits palsu pada fanatisme imam adalah
“Akan tiba pada umatku seseorang yang bernama Muhammad bin Idris, dia lebih berbahaya bagi umatku dari pada Idris.”
*      Perbedaan Mazhab dan Faham
      Perbedaan madzhab dalam ibadah sampai derajat fanatic juga merupakan penyebab munculnya Hadits palsu. Masing-masing ingin mendapatkan legitimasi penguat untuk madzhab yang dianutnya. Diantaranya adalah Hadits palsu berikut:
من رفع يده في الركوع فلا صلاة له
“Barang siapa yang mengangkat tangannya ketika ruku’, maka tiadalah sholat baginya”


*      Pembuat cerita
      Sebagian tukang cerita memiliki keinginan agar ceritanya didengar oleh orang banyak yang kemudian memotivasi mereka. Dan melambungkan angan-angan mereka. Dan melambungkan angan-angan mereka.
Contoh:
“Barang siapa mengucapkan La ilaaha illallah, maka Allah akan menciptakan satu burung setiap katanya, yang paruhnya dari emas dan bulunya dari marjan”.
*      Terlalu semangat dalam kebaikan tanpa ilmu yang cukup terkadang orang-orang shaleh dan zuhud ingin memotivasi orang-orang yang sibuk dengan ke duniawi yaitu merek dengan Hadits-Hadits palsu.
Dengan harapan agar orang-orang tersebut terdorong untuk beribadah atau meninggalkan perbuatan yang tidak benar, serta mendapatkan pahala dari Allah SWT.
Diantara Hadits-Hadits palsu yang mereka buat adalah:
من قرأ ليس في ليلة أصبح مغفورا له و من قرأ الدخان في ليلة أصبح مغفورا له
“Barang siapa membaca surat Yasin pada malam hari maka pada pagi harinya dia telah diampuni dari segala dosanya, dan barang siapa membaca surat ad-Dukhon pada malam hari, pada subuh harinya dan telah diampuni dosa-dosanya”.
Diantara mereka adalah Maisaroh bin Abdi Rabbih, ketika Ibnu Mahdi bertanya kepadanya mengapa ia membuat Hadits-Hadits palsu seperti itu? Ia menjawab, aku memalsukannya untuk memotivasi manusia agar membacanya. (Al-Thahan, 1996:91).
*      Ingin dekat dengan penguasa
Diantara pemalsuan Hadits yang terjadi adalah dikarenakan faktor ingin “Mencari muka” kepada para penguasa, agar mereka mendapatkan “sesuatu”. Diantaranya adalah seperti yang dilakukan oleh Ghiyats bin Ibrahim yang berdusta untuk kepentingan Khalifah al-Mahdi yang ketika itu Al-Mahdi sedang bermain burung. Ghiyats mengatakan:
Ghiyats bin Ibrahim berkata:
“Tidak ada perlombaan kecuali dalam memanah, balapan unta, pacuan kuda, dan burung merpati”

Usaha Para Ulama’ memberantas Hadist Palsu
1.      Berpegang pada Sanad
2.      Ketelitian dalam Meriwayatkan Hadits
3.      Memerangi Para Pendusta dan Tukang Cerita
4.      Menjelaskan ”status” perawi Hadits
5.      Membuat kaidah-kaidah untuk mengetahui Hadits palsu
Membuat kaidah-kaidah untuk mengetahui Hadits palsu dapat diketahui dari ciri-cirinya:
*      Susunan Hadits itu baik lafadz maupun maknanya janggal, sehingga tidak
Seperti Hadits :
تسبوا الديك فإنه صديقي لا
Artinya:
“Janganlah engkau memaki ayam jantan, karena dia teman karibku”
Isi / maksud Hadits tersebut bertentangan dengan akal. Seperti Hadits:
الباذنجان شفاء من كل داء
Artinya:
“Buah terong itu menyebahkan segala macam penyakit”
*      Isi / maksud itu bertentangan dengan nash al-Qur’an dan atau Hadits mutawatir, seperti Hadits:
لا يدخل الجنة  ولد الزنا
Artinya:
“Anak zina itu tak akan masuk surga”
Hadits tersebut bertentangan dengan firman Allah SWT:
yang artinya:
“Orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain”
Selain itu ada cara mendeteksi hadist palsu
1.      Pengamalannya ditolak
2.      Bertentangan dengan al-Qur’an



3.      Pengakuan Pemalsu
Pengakuan Abu Ishmah Muh Bin Abu Maryam al-Wamawazi, ia mengakui membuat Hadits ”palsu yang berkaitan dengna fadhilah (keutamaan) membaca surat-surat al-Qur’an”.
4.      Semi pengakuan
Pemalsu hadita terkadang tidak mengakui bahwa ia memalsukan Hadits. Namun ketika ditanya kapan ia lahir dan kapan gurunya wafat. Ia memberikan jawaban yang tidak tepat.
5.      Rawinya Pendusta
Apabila dalam sanad Hadits terdapat rawi yang pendusta, maka para ahli Hadits itu palsu.
Pengaruh Dan Dampak Buruk Tersebarnya Hadits Palsu
*      Munculnya keyakinan-keyakinan yang sesat
*      Munculnya ibadah-ibadah yang bid’ah
*      Matinya sunnah

CONTOH HADITS MAUDHU'/PALSU
*      Hadits Maudhu' (palsu) : "Sesungguhnya Alloh menggenggam segenggam dari cahayaNya, lalu berfirman kepadanya, 'Jadilah engkau Muhammad'."
*      Hadits Maudhu' : "Wahai Jabir, bahwa yang pertamakali diciptakan oleh Alloh adalah cahaya Nabimu"
*      Hadits tidak ada sumber asalnya : "Bertawasullah dengan martabat dan kedudukanku"
*      Hadits Maudhu'. Demikian menurul Al-Hafizh Adz-Dzahabi : "Barangsiapa yang menunaikan haji kemudian tidak berziarah kepadaku, maka dia telah bersikap kasar kepadaku"
*      Hadits tidak ada sumber asalnya. Demikian menurut Al-Hafizh Al-'Iraqi : "Pembicaraan di Masjid memakan (menghanguskan pahala) kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar"
*      Hadits Maudhu' Demikian menurut Al-Ashfahani : "Cinta tanah air adalah sebagian daripada iman"
*      Hadits Maudhu', tidak ada sumber asalnya : " Berpegang teguhlah kamu dengan agama orang-orang lemah"
*      Hadits tidak ada sumber asalnya : "Barangsiapa yang mengetahui dirinya, maka dia telah mengetahui Tuhannya"
*      Hadits tidak ada asal sumbernya : "Aku adalah harta yang tersembunyi
*      Hadits Maudhu' : "Ketika Adam melakukan kesalahan, ia berkata, 'Wahai Tuhanku, aku memohon kepadaMu dengan hak Muhammad agar Engkau mengampuni kepadaku'"
*      Hadits Maudhu' : "Semua manusia (dalam keadaan) mati kecuali para ulama. Semua ulama binasa kecuali mereka yang mengamalkan (ilmunya). Semua orang yang mengamalkan ilmunya tenggelam, kecuali mereka yang ikhlas. Dan orang-orang yang ikhlas itu berada dalam bahaya yang besar"
*      Hadits Maudhu'. Lihat Silsilatul Ahaadits Adh-Dha'iifah, hadits no. 58 : "Para sahabatku laksana bintang-bintang. Siapa pun dari mereka yang engkau teladani, niscaya engkau akan mendapat petunjuk"
*      Hadits batil. Lihat Silsilatul Ahaadits Adh-Dha'iifah, no. 87 : "Jika khatib telah naik mimbar, maka tak ada lagi shalat dan perbincangan"
*      Hadits batil. Ibnu Al-Jauzi memasukkannya dalam kelompok hadits-hadits maudhu' : "Carilah ilmu meskipun (sampai) di negeri Cina"
*      Uthlubul ilma minal mahdi ilal lahdi.
   Status Hadis: Hadis maudhu’ (hadis palsu).
*      Ikhtilafu ummati rahmah
   Terjemahan: Perselisihan umatku adalah rahmat
   Status Hadis: Hadis maudhu’ (hadis palsu).







DAFTAR RUJUKAN


Tidak ada komentar:

Posting Komentar